Meruwat Diri Dengan Logika Dan Agama

MEMASUKI masa pensiun, kehidupan rumah tangga saya sangat berubah. Terutamanya, keharmonisan suami istri, bahkan dalam status suami istri yang sah, saya sudah “pisah ranjang” dengan istri.

Hubungan orang tua dengan anak pun mulai berubah. Mereka seakan kurang saling kenal (lu-lu, gue-gue ). Sebagai kepala rumah tangga, saya mulai ikhtiar secara batin. Mendatangi beberapa orang pintar.

Salah satu dari orang pin tar itu mengatakan rumah tangga kami diganggu oleh orang yang j ahat dengan ilmu hitam. Karena itu, saya pun berupaya untuk membentengi rumah, dengan harapan rumah tangga kembali harmonis.

Ratusan ribu sudah saya keluarkan untuk biaya ini itu. Mulai dari memberi uang Rp 800.000,- yang katanya untuk membeli minyak wangi dan menanam beberapa pusaka kecil di sekitar rumah.

Namun, suasana rumah tangga kami masih tetap saja. Masalah sedikit saja bisa bikin ribut besar bahkan sesama anggota keluarga tidak saling tegur sapa.

Karena sudah tersugesti bahwa suasana tidak nyaman itu karena faktor gaib (magis) saya pun terus berkeliling mencari orang pintar. Mulai yang berprofesi dukun, tabib hingga seorang kiai.

Saran dari mereka pun berbeda-beda. Nasihatnya pun beragam. Ada yang mengatakan rumah saya kena guna-guna, dihuni jin jahat dan kalangan kiai umumnya menyarankan saya untuk mengamalkan doa-doa, tanpa mempermasalahkan ada apa di sekitar rumah saya.

Secara tidak sengaja, suatu hari saya bertemu dengan anak muda. Dia mengaku mengerti ilmu batin namun tidak terlalu menguasai ilmu agama. Pendidikannya pun tidak di pesantren.

“Pak, saya pernah mendengarkan nasihat orang tua, agar keluarga menjadi harmonis, keluarga itu harus sering menyelenggarakan ibadah bersama dan makan bersama,” kata anak muda itu.

buka-aura-wajah-sendiri

Saya pikir, metode itu amat realis. Saya pun mengambil inisiatif untuk memulai. Berawal (hanya) berj amaah pada shalat mahrib saja, kami merasakan ada perubahan yang drastis. Saya sebagai imam dan anak istri menjadi makmum.

Makan keluarga pun selalu kami upayakan bersama. Alhamdulillah, cara yang saya tempuh benar-benar manjur. Keluarga kami utuh kembali dengan sarana shalat berjamaah dan makan bersama.

Saya menyimpulkan. Apa yang orang bilang rumah saya diganggu ilmu hi tarn dan sebagainya itu hanyalah cara dukun menakut-nakuti orang. Saya ikhlaskan uang untuk beli minyak wangi. Kini keluarga kami harmonis kembali lantaran secara bersama-sama melakukan kegiatan keagainaan.

Sedangkan komunikasi antar keluarga bisa dilakukan sambil makan bersama. Dan saling bersalaman setelah usai shalat berjamaah, pengaruhnya sampai di hati. Kalau tidak percaya, silakan coba!

Menurut saya istilah kesialan itu, tidak ada. Sial atau naas itu bisa kfirena manusia sedang diuji oleh Allah, namun sebab yang paling sering terjadi justru kesalahan dari manusia itu sendiri yang tidak bisa memanfaatkan akal sehat dan hati nuraninya.

Saya teringat dengan firman Tuhan bahwa bencana yang menimpa seorang manusia disebabkan oleh tangan manusia itu sendiri.

KONSULTASI SILAHKAN HUBUNGI KAMI


Lihat Juga Kumpulan Ajian Ampuh :